Client
merupakan sembarang sistem atau proses yang melakukan suatu permintaan data
atau layanan ke server sedangkan server ialah, sistem atau proses yang
menyediakan data atau layanan yang diminta oleh client.
Client-Server
adalah pembagian kerja antara server dan client yg mengakses server dalam suatu
jaringan. Jadi arsitektur client-server adalah desain sebuah aplikasi terdiri
dari client dan server yang saling berkomunikasi ketika mengakses server dalam
suatu jaringan.
Sistem client
server didefinisikan sebagai sistem terdistribusi, tetapi ada beberapa
perbedaan karakteristik yaitu :
a. Servis (layanan)
· Hubungan antara proses yang berjalan pada
mesin yang berbeda
· Pemisahan fungsi berdasarkan ide layanannya
· Server sebagai provider, client sebagai konsumen
b. Sharing resources (sumber daya)
Server bisa
melayani beberapa client pada waktu yang sama, dan meregulasi akses bersama untuk share sumber daya dalam menjamin konsistensinya.
c. Asymmetrical protocol (protokol yang tidak simetris )
Many-to-one relationship
antara client dan server.Client selalu menginisiasikan dialog melalui layanan
permintaan, dan server menunggu secara pasif request dari client.
d. Transparansi lokasi
Proses yang
dilakukan server boleh terletak pada mesin yang sama atau pada mesin yang berbeda melalui jaringan.Lokasi server harus mudah diakses dari client.
e. Mix-and-Match
Perbedaan
server client platforms
f. Pesan berbasiskan komunikasi
Interaksi
server dan client melalui pengiriman pesan yang menyertakan permintaan dan jawaban.
g. Pemisahan interface dan implementasi
Server bisa
diupgrade tanpa mempengaruhi client selama interface pesan yang diterbitkan
tidak berubah.
·
Client Server System
·
Client / Server Application
2. Perbedaan Tipe Client-Server
a. File Servers
·
File server vendors mengklaim bahwa mereka pertama
menemukan istilah client-server.
·
Untuk sharing file melalui jaringan
b. Database
Servers
· Client mengirimkan SQL requests sebagai pesan pada
database server,selanjutnya hasil perintah SQL dikembalikan.
·
Server menggunakan kekuatan proses yang diinginkan untuk
menemukan data yang diminta dan kemudian semua record dikembalikan pada client.
c. Transaction
Servers (Transaksi Server)
·
Client meminta remote procedures yang terletak pada
server dengan sebuah SQL database engine.
·
Remote procedures ini mengeksekusi sebuah grup dari SQL
statement
·
Hanya satu permintaan / jawaban yang dibutuhkan untuk
melakukan transaksi
d. Groupsware
Servers
·
Dikenal sebagai Computer-supported cooperative working
·
Manajemen semi-struktur informasi seperti teks, image, ,
bulletin boards dan aliaran kerja
·
Data diatur sebagai dokumen
e. Object
Application Servers
·
Aplikasi client/server ditulis sebagai satu set objek
komunikasi
·
Client objects berkomunikasi dengan server objects
melalui Object Request Broker (ORB)
·
Client meminta sebuah method pada remote object
f. Web
Application Servers (Aplikasi Web Servers)
·
World Wide Web adalah aplikasi client server yang pertama
yang digunakan untuk web.
·
Client dan servers berkomunikasi menggunakan RPC seperti
protokol yang disebut HTTP.
3. Fungsi client server
Dalam konteks basis data, client mengatur interface berfungsi sebagai
workstation tempat menjalankan aplikasi basis data. Client menerima permintaan
pemakai, memeriksa sintaks dan generate kebutuhan basis data dalam SQL atau
bahasa yang lain. Kemudian meneruskan pesan ke server, menunggu response dan
bentuk response untuk pemakai akhir. Server menerima dan memproses permintaan
basis data kemudian mengembalikan hasil ke client.
Proses-proses
ini melibatkan pemeriksaan autorisasi, jaminan integritas, pemeliharaan data
dictionary dan mengerjakan query serta proses update. Selain itu juga
menyediakan kontrol terhadap concurrency dan recovery.
Ada beberapa keuntungan jenis arsitektur ini adalah :
· Memungkinkan akses basis data yang
besar
· Menaikkan kinerja
· Jika client dan server diletakkan pada
komputer yang berbeda kemudian CPU yang berbeda dapat memproses aplikasi secara
paralel. Hal ini mempermudah merubah mesin server jika hanya memproses basis
data.
· Biaya untuk hardware dapat dikurangi
· Hanya server yang membutuhkan storage dan
kekuatan proses yang cukup untuk menyimpan dan mengatur basis data
· Biaya komunikasi berkurang
· Aplikasi menyelesaikan bagian operasi pada
client dan mengirimkan hanya bagian yang dibutuhkan untuk akses basis data
melewati jaringan, menghasilkan data yang sedikit yang akan dikirim melewati
jaringan
· Meningkatkan kekonsistenan
· Server dapat menangani pemeriksaan integrity
sehingga batasan perlu didefinisikan dan validasi hanya di satu tempat,
aplikasi program mengerjakan pemeriksaan sendiri
· Map ke arsitektur open-system dengan
sangat alami
Berikut ini
adalah ringkasan fungsi client-server
Client
• Mengatur user interface
• Menerima dan memeriksa sintaks input dari pemakai
• Memproses aplikasi
• Generate permintaan basis data dan memindahkannya ke server
• Memberikan response balik kepada pemakai
• Menyediakan akses basis data secara bersamaan
• Menyediakan kontrol recovery
Server
• Menerima dan memproses basis data yang diminta dari client
• Memeriksa autorisasi
• Menjamin tidak terjadi pelanggaran terhadap integrity constraint
• Melakukan query/pemrosesan update dan memindahkan response ke client
• Memelihara data dictionary
4. Tipe Jaringan Peer to
Peer
Dalam jaringan peer-to-peer tidak
ada server khusus atau hierarki diantara komputer-komputer yang saling
terhubung, semua komputer berstatus sama dan dikenal sebagai peer.
Komputer-komputer yang terdapat dalam jaringan peer-to-peer dapat bertindak
sebagai server dan juga dapat bertindak sebagai client.
Pada jenis jaringan ini juga tidak memiliki administrator yang
bertanggung jawab terhadap seluruh jaringan. Masing-masing user bertindak
sebagai administrator pada komputer yang digunakannya, user pada masing-masing
komputer dapat menentukan data yang diperbolehkan untuk diakses oleh user dari
komputer lain.
Peer-to-peer juga
dikenal dengan istilah workgroups. Jumlah pengguna dalam sebuah
jaringan workgroups atau peer-to-peer biasanya kurang dari dari 10 user. Jenis
jaringan ini relatif sederhana karena masing-masing komputer berfungsi sebagai
server dan client, sehingga tidak diperlukan sebuah komputer yang bertindak
sebagai server pusat. Dari sisi biaya, jenis jaringan ini dapat lebih murah
dibanding dengan jenis jaringan client-server.
Pada jenis jaringan
peer-to-peer kita memerlukan software sistem operasi yang dirancang dan
disediakan untuk dedicated server. Dedicated server hanya berfungsi sebagai
server saja tidak digunakan sebagai client atau workstation. Sistem operasi
seperti Microsoft Windows 2000 Professional, Mincrosoft Windows NT workstation,
Microsoft Windows Me, Windows 98, Windows XP merupakan contoh-contoh sistem
operasi yang dapat digunakan untuk membentuk jaringan peer-to-peer. Tidak ada
software tambahan yang diperlukan untuk membangun sebuah sistem jaringan
peer-to-peer.
jaringan peer-to-peer
akan lebih efektif jika digunakan pada lingkungan berikut:
- Jumlah user kurang dari 10
- Lokasi user saling berdekatan
(dalam area yang sama)
- Sistem keamanan belum terlalu
diperlukan.
- Pertumbuhan sistem jaringan
lambat.
Jaringan peer-to-peer memiliki beberapa
keuntungan, diantaranya:
- Mudah di-install dan
di-konfigurasi
- Masing-masing komputer tidak
tergantung pada server khusus
- User-user dapat mengontrol
resource yang hendak mereka bagikan pada user lain
- Jenis jaringan peer-to-peer
relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis client-server
- Jenis jaringan ini akan efektif
dengan jumlah pengguna yang kurang dari 10.
Tetapi, jenis jaringan peer-to-peer juga
memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah:
- Anda hanya dapat menggunakan
beberapa password terhadap beberapa resource pada satu saat
- User mungkin akan mengingat
beberapa password terhadap beberapa resource
- User harus melakukan proses
backup pada masing-masing komputer untuk melindungi data yang tersimpan
pada masing-masing komputer.
- Performance komputer yang
memiliki resource akan menurun ketika resource tersebut di-akses oleh
beberapa user
- Mekanisme penyimpanan data
tidak terpusat pada satu komputer, karena lokasi data tersebar
dimasing-masing komputer.
5. Arsitektur Jaringan
Client server
Arsitektur jaringan Client Server merupakan model
konektivitas pada jaringan yang membedakan fungsi komputer sebagai Client dan Server. Arsitektur ini
menempatkan sebuah komputer sebagai Server. Server ini yang bertugas memberikan
pelayanan kepada terminal-terminal lainnya tang terhubung dalam system jaringan
atau yang kita sebut Clientnya. Server juga dapat bertugas untuk memberikan
layanan berbagi pakai berkas (file server), printer (printer server), jalur
komunikasi (server komunikasi).
Pada model arsitektur ini, Client tidak dapat berfungsi sebagai
Server, tetapi Server dapat berfungsi menjadi Client (server non-dedicated).
Prinsip kerja pada arsitektur ini sangat sederhana, dimana Server akan menunggu
permintaan dari Client, memproses dan memberikan hasil kepada Client, sedangkan
Client akan mengirimkan permintaan ke Server, menunggu proses dan melihat
visualisasi hasil prosesnya.
Arsitektur Client Server - Sistem Client
Server ini tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan jaringan komputer skala
luas. Sistem ini menggunakan protokol utama Transmision Control
Protocol/Internet Protocol (TCP/IP), sedangkam sistem operasi yang digunakan
antara lain Unix, Linux dan Windows NT.
Lingkungan Database Client/Server di Internet
- Menggunakan LAN untuk
mendukung jaringan PC
- Masing-masing PC memiliki
penyimpan tersendiri
- Berbagi hardware atau
software
Aplikasi ditempatkan pada komputer client dan mesin database
dijalankan pada server jarak-jauh. Aplikasi client mengeluarkan permintaan ke
database yang mengirimkan kembali data ke client-nya.
Model Two-tier terdiri dari tiga komponen yang disusun menjadi
dua lapisan : client (yang meminta serice) dan server (yang menyediakan
service). Tiga komponen tersebut yaitu :
1.
User Interface(Client). Adalah antar muka program aplikasi yang berhadapan
dan digunakan langsung oleh user.
2.
Manajemen Proses(Jaringan).
3.
Database(Server). Model ini memisahkan peranan user interface dan database
dengan jelas, sehingga terbentuk dua lapisan.
Dalam model client/server, pemrosesan pada sebuah aplikasi
terjadi pada client dan server. Client/server adalah tipikal sebuah aplikasi
two-tier dengan banyak client dan sebuah server yang dihubungkan melalui sebuah
jaringan, seperti terlihat dalam gambar 1.2. Aplikasi ditempatkan padakomputer client dan mesin
database dijalankan pada server jarak-jauh. Aplikasi client mengeluarkan
permintaan ke database yang mengirimkan kembali data ke client-nya.
Dalam client/server, client-client yang cerdas bertanggung jawab
untuk bagian dari aplikasi yang berinteraksi dengan user, termasuk logika
bisnis dan komunikasi dengan server database.
Aplikasi-aplikasi berbasis client/server memiliki kekurangan
pada skalabilitas. Skalabilitas adalah seberapa besar aplikasi bisa menangani
suatu kebutuhan yang meningkat – misalnya, 50 user tambahan yang mengakses
aplikasi tersebut. Walaupun model client/server lebih terukur daripada model
berbasis host, masih banyak pemrosesan yang terjadi pada server. Dalam model
client/server semakin banyak client yang menggunakan suatu aplikasi, semakin
banyak beban pada server.
Koneksi database harus dijaga untuk masing-masing client.
Koneksi menghabiskan sumber daya server yang berharga dan masing-masing client
tambahan diterjemahkan ke dalam satu atau beberapa koneksi. Logika kode tidak
bisa didaur ulang karena kode aplikasi ada dalam sebuah pelaksanaan executable
monolitik pada client. Ini juga menjadikan modifikasi pada kode sumber sulit.
Penyusunan ulang perubahan itu ke semua komputer client juga membuat sakit
kepala.
Keamanan dan transaksi juga harus dikodekan sebagai pengganti
penanganan oleh COM+/MTS. Bukan berarti model client/server bukanlah merupakan
model yang layak bagi aplikasi-aplikasi. Banyak aplikasi yang lebih kecil
dengan jumlah user terbatas bekerja sempurna dengan model ini. Kemudahan
pengembangan aplikasi client/server turut menjadikannya sebuah solusi menarik
bagi perusahaan.
Pengembangan umumnya jauh lebih cepat dengan tipe sistem ini.
Siklus pengembangan yang lebih cepat ini tidak hanya menjadikan aplikasi
meningkat dan berjalan dengan cepat namun juga lebih hemat biaya.
Kelebihan
dari model client/server :
- Menangani Database Server
secara khusus
- Relatif lebih sederhana untuk
di develop dan diimplementasikan.
- Lebih cocok diterapkan untuk
bisnis kecil.
Server database berisi mesin database, termasuk tabel, prosedur
tersimpan, dan trigger (yang juga berisi aturan bisnis). Dalam system
client/server, sebagian besar logika bisnis biasanya diterapkan dalam database.
Server database manangani :
- Manajemen data
- Keamanan
- Query, trigger, prosedur tersimpan
- Penangan kesalahan
Arsitektur client/server merupakan sebuah
langkah maju karena mengurangi beban pemrosesan dari komputer sentral ke
komputer client. Ini berarti semakin banyak user bertambah pada aplikasi
client/server, kinerja server file tidak akan menurun dengan cepat. Dengan
client/server user dair berbagai lokasi dapat mengakses data yang sama dengan
sedikit beban pada sebuah mesin tunggal. Namun masih terdapat kelemahan pada
model ini. Selain menjalankan tugas-tugas tertentu,
Kekurangan dari model client/server :
- Kurangnya
skalabilitas
- Koneksi database dijaga
- Tidak ada keterbaharuan
kode
- Tidak ada tingkat menengah
untuk menangani keamanan dan transaksi skala kecil.
- Susah di amankan.
- Lebih mahal.
6. Three-Tier / Multi-Tier
Three Tier Client Server - Model three-tier
atau multi-tier dikembangkan untuk menjawab keterbatasan pada arsitektur
client/server. Dalam model ini, pemrosesan disebarkan di dalam tiga lapisan
(atau lebih jika diterapkan arsitektur multitier). Lapisan ketiga dalam
arsitektur ini masing-masing menjumlahkan fungsionalitas khusus. Yaitu :
- Layanan presentasi (tingkat
client)
- Layanan bisnis (tingkat
menengah)
- Layanan data (tingkat sumber
data)
Layanan presentasi atau logika antarmuka pengguna ditempatkan
pada mesin client. Logika bisnis dikeluarkan dari kode client dan ditempatkan
dalam tingkat menengah. Lapisan layanan data berisi server database. Setiap
tingkatan dalam model three-tier berada pada komputer tersendiri.
Konsep model three-tier adalah model yang membagi fungsionalitas
ke dalam lapisan-lapisan, aplikasiaplikasi mendapatkan skalabilitas,
keterbaharuan, dan keamanan.
Arsitektur Three Tier merupakan inovasi dari arsitektur Client Server. Pada arsitektur
Three Tier ini terdapat Application Server yang berdiri di antara Client dan
Database Server. Contoh dari Application server adalah IIS, WebSphere, dan
sebagainya. Application Server umumnya berupa business process layer, dimana
bisa didevelop menggunakan PHP, ASP.Net, maupun Java. Sehingga kita menempatkan
beberapa business logic kita pada tier tersebut. Arsitektur Three Tier ini
banyak sekali diimplementasikan dengan menggunakan Web Application. Karena dengan
menggunakan Web Application, Client Side (Komputer Client) hanya akan melakukan
instalasi Web Browser.
Dan saat komputer client melakukan inputan data, maka data
tersebut dikirimkan ke Application Server dan diolah berdasarkan business
process-nya. Selanjutnya Application Server akan melakukan komunikasi dengan
database server. Biasanya, implementasi arsitektur Three Tier terkendala dengan
network bandwidth.
Karena aplikasinya berbasiskan web, maka Application Server
selalu mengirimkan Web Application-nya ke komputer Client. Jika kita memiliki
banyak sekali client, maka bandwidth yang harus disiapkan akan cukup besar,
Sedangkan network bandwidth biasanya memiliki limitasi. Oleh karena itu
biasanya, untuk mengatasi masalah ini, Application Server ditempatkan pada sisi
client dan hanya mengirimkan data ke dalam database server. Konsep model
three-tier adalah model yang membagi fungsionalitas ke dalam lapisan-lapisan,
aplikasiaplikasi mendapatkan skalabilitas, keterbaharuan, dan keamanan.
Kelebihan arsitektur Three Tier :
- Segala sesuatu mengenai
database terinstalasikan pada sisi server, begitu pula dengan
pengkonfigurasiannya. Hal ini membuat harga yang harus dibayar lebih
kecil.
- Apabila terjadi kesalahan pada
salah satu lapisan tidak akan menyebabkan lapisan lain ikut salah.
- Perubahan pada salah satu
lapisan tidak perlu menginstalasi ulang pada lapisan yang lainnya dalam
hal ini sisi server ataupun sisi client.
- Keamanan dibelakang
firewall.Transfer informasi antara web server dan server database optimal.
- Komunikasi antara system-sistem
tidak harus didasarkan pada standart internet, tetapi dapat menggunakan
protocol komunikasi yang lebvih cepat dan berada pada tingkat yang lebih
rendah.
- Penggunaan middleware mendukung
efisiensi query database dalam SQL di pakai untuk menangani pengambilan
informasi dari database.
Beberapa
Keuntungan Arsitektur Three-Tier :
- Keluwesan teknologi.
- Mudah untuk mengubah DBMS
engine
- Kemungkinkan pula middle tier
ke platform yang berbeda
- Biaya jangka panjang yang
rendah.
- Perubahan-perubahan cukup
dilakukan pada middle tier daripada pada aplikasi keseluruhan.
- Keunggulan kompetitif.
- Kemampuan untuk bereaksi
terhadap perubahan bisnis dengan cepat, dengan cara mengubah modul kode
daripada mengubah keseluruhan aplikasi
Kekurangan
arsitekture Three Tier :
- Lebih susah untuk merancang
- Lebih susah untuk
mengatur
- Lebih mahal
7. Aplikasi N-tier
Aplikasi N-Tier
- Stored procedure ternyata tidak mencukupi untuk sistem dimana
database disimpan pada lebih dari satu server, karena bisa jadi terdapat client
yang tidak dapat mengakses procedure tersebut. Mungkin Anda bertanya, apa
perlunya menyimpan database lebih dari satu server? Tentu saja Anda juga
menginginkan perusahaan yang menggunakan aplikasi Anda dapat berkembang, bukan?
Penggunaan lebih dari satu database sangat memungkinkan saat sebuah perusahaan
telah memiliki divisi yang cukup besar dimana harus memiliki database
tersendiri. Dalam kasus penggunaan lebih dari satu server database, Anda perlu
mengimplementasikan strategi development yang berbeda, pendekatan yang baik
adalah dengan menggunakan model n-tier. Huruf “n” pada n-tier menunjukkan
variabel numerik yang dapat berisi angka sebanyak apapun, misalnya 3-tier,
4-tier dan seterusnya. Karena itu sebuah aplikasi n-tier memiliki 3 atau lebih
tingkatan logical, umumnya aplikasi n-tier saat ini menggunakan 3-tier.
Untuk menggambarkannya, Anda dapat
membayangkan skema disain aplikasi two-tier yang mengimplementasikan business
logic pada stored procedure seperti yang telah diterangkan diatas, kemudian
melakukan improvisasi disain dengan menambahkan sebuah tingkatan (tier) sebagai
middle tier sebagai business object, arsitektur inilah yang dikenal dengan
3-tier. Perbedaan nyata dengan 2-tier adalah, business object pada 3-tier
terpisah dari aplikasi client dan elemen database. Sehingga dapat digambarkan
bahwa sistem 3-tier secara umum terbentuk dari tingkatan client, business dan
database.
Untuk membayangkan penerapan 3-tier dalam kehidupan sehari-hari
yang mungkin paling sering Anda temui adalah penerapan Internet ataupun
Intranet.
Pada
aplikasi Internet/Intranet, terdapat client yang menjalankan browser dan
meminta informasi dari middle-tier yang berupa HTTP Server. Middle-tier akan
meminta data pada server database, kemudian mengirimkannya kembali kepada HTTP
Server. HTTP Server akan mengirimkan kepada browser dalam bentuk page/halaman
web.
Sebuah sistem 3-tier menyediakan support multi-user yang stabil,
bahkan saat pada client menjalankan aplikasi yang berbeda, juga dapat
mendayagunakan beberapa database yang digunakan secara bersamaan. Dalam
pembahasan berikut ini, akan dijelaskan contoh kasus penerapan 3-tier. Bayangkan
sebuah sistem 3-tier, yang terdiri dari client, business dan database.
Sistem tersebut harus melakukan kalkulasi gaji karyawan
berdasarkan pajak dan peraturan lainnya yang dapat berubah dari tahun ke tahun.
Pada tahun ini, terdapat perubahan peraturan pajak yang harus diterapkan pada
sistem, pada tingkatan mana Anda harus melakukan update? Anda hanya perlu
melakukan update pada tingkatan business object, yang ada karena arsitektur
3-tier ini. Satu hal yang harus terus diingat sebagai konsep dasar, bahwa
pengertian arsitektur 2-tier maupun 3-tier adalah secara logical dan bukan
secara physical. Sehingga pada sebuah sistem kecil Anda dapat menjalankan
business logic dan database pada komputer yang sama.
Tetapi pada sistem yang besar, Anda mungkin memerlukan beberapa komputer untuk
menjalankan baik tingkatan business ataupun database.
Teknologi pendukung
Beberapa
contoh teknologi yang umum dipergunakan untuk mendukung n-tier:
Umumnya merupakan model object oriented dimana dapat
dipergunakan oleh aplikasi yang berbeda dan penggunaan ulang komponen.
Contohnya adalah COM/DCOM. Aplikasi yang ditulis dengan bahasa pemrograman yang
berbeda dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan Component Object.
Component Object itu sendiri dapat ditulis dengan bahasa pemrograman yang
berbeda-beda. Pada prinsipnya komponen tersebut terdiri dari class yang
memiliki sekumpulan method.
- Microsoft Transaction Server
MTS atau Microsoft Transaction Server merupakan software yang
dikembangkan oleh Microsoft untuk keperluan monitoring transaksi pada aplikasi
terdistribusi. MTS beroperasi pada middle-tier dan menyediakan control
transaksi. Sebagai contoh, jika Anda mengembangkan sistem 3-tier yang mana
menempatkan business object pada middle-tier, maka Anda dapat membuat ActiveX
DLL sebagai business objectnya, dan melakukan instalasi didalam lingkungan MTS
pada middle-tier. MTS akan bertanggung-jawab dalam menangani akses multi-client
pada busines object tersebut. MTS menyediakan fasilitas seperti transaksi
rollback, commit dan deadlock pada middle-tier.
Untuk aplikasi n-tier pada
aplikasi Internet/Intranet, Anda mutlak memerlukan Web Server. Terdapat cukup
banyak web server yang umum digunakan seperti Apache Web Server atau Internet
Information Server (IIS). Anda dapat menggunakan web server sebagai middle-tier
untuk menangani permintaan dari browser komputer client.
- Microsoft Message Queue Server.
MMQS atau Microsoft Message Queue Server merupakan teknologi
yang dikembangkan oleh Microsoft yang berjalan pada middle-tier dan berfungsi
untuk mengelola antrian permintaan.
Hal ini dilatarbelakangi karena didalam jaringan yang besar,
tidak semua komputer yang terkoneksi berfungsi pada saat yang diperlukan,
sehingga diperlukan sebuah aplikasi yang dapat mengelola antrian request dari
client dan response dari server yang akan dikirimkan lagi ketika komputer tujuan telah
berfungsi. Satu keuntungannya lagi, jika client-client meminta request yang
melebihi kapasitas sebuah server, maka MMQS dapat menyimpannya untuk kemudian
mendelegasikannya pada server yang tidak sibuk. Untuk kebutuhan ini diperlukan
aplikasi pada server yang berfungsi sebagai listener atau referral.
- Database Management System.
Database Management System atau dikenal dengan singkatan DBMS
merupakan sumber penyimpanan data dan tentu saja memegang peranan vital dalam
keseluruhan sistem. Untuk arsitektur 2-tier dan n-tier, diperlukan aplikasi
DBMS yang mampu bekerja pada lingkungan tersebut, beberapa contohnya adalah
MySQL, Microsoft SQL Server dan Oracle. Jika pada DBMS yang dipergunakan
terdapat fasilitas stored procedure, maka dimungkinkan untuk menyimpan business
logic didalam stored procedure yang akan diakses oleh client.
Keuntungan Dan Kerugian n-tier
Diantara keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari arsitektur
n-tier (atau 3-tier pada umumnya), yang terutama adalah:
1. Kemudahan perubahan
business logic di masa yang akan dating
2. Business logic yang mudah
diimplementasi dan dipelihara
3. Aplikasi
client dapat mengakses berbagai tipe DBMS yang berbeda-beda secara transparan.