RSS

Prinsip Kerja Jaringan Client Server

Deskripsi

Nama            : Dede Saefudin Ahmad

Kelas             : XII TKJ

Mapel           : ASJ ( Administrasi Server Jaringan )

Guru Mapel  : Selamet Hariadi

Pertemuan    : Kedua Tanggal 30 Agustus 2014


Abstrak

     1.    Type jaringan ada tiga macam, yaitu Peer to Peer, Client Server (Server Based) dan Hybrid.
     2.    Untuk type jaringan peer to peer antara computer bisa bertindak sebagai client maupun server.
     3.    Type jaringan client server adalah type jaringan yang di dalamnya terdapat client dan juga server (sebagai pusat).
     4.    Type jaringan hybrit adalah gabungan dari type jaringan peer to peer dan client server.
     5.    Arsitektur client server adal dua macam, yakni two tier architecture dan three tier architecture.
     6.    DBMS (Database Management Service) adalah suatu sistem atau perangkat lunak yang dirancang untuk mengelola suatu basis data (Database) dan menjalankan operasi terhadap data yang diminta banyak pengguna (user).
     7.    Internet merupakan contoh jaringan terbesar yang menghubungkan jutaan komputer yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan tak terikat pada satu organisasipun.
     8.    WWW (World Wide Web) Sistem pengaksesan informasi dalam Internet yang paling terkenal dan biasa dikenal dengan istilah Web.
     9.    E- Business adalah teknologi Internet untuk menghubungkan dan memperkuat proses-proses bisnis, perdagangan elektronis (electronic commerce atau e-commerce), dan komunikasi serta kolaborasi antar sebuah perusahaan dengan para pelanggan, pemasok, dan mitra kerja bisnis elektronis lainnya (O’Brien).
     10.  E- Commerce adalah aplikasi perdagangan elektronis digunakan untuk mendukung kegiatan pembelian dan penjualan, pemasaran produk, jasa, dan informasi melalui Internet

     11.  Aplikasi Web dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu Web Statis dan Web Dinamis




      Kata Kunci

      Administrasi Server Jaringan, Peer to Peer, Client Server, Hybrit, DBMS (Database Management Service), Internet, E-Busisiness, E-Commerce, Web statis, web dinamis


       1.        Pengertian dan Konsep Dasar Client Server
Client merupakan sembarang sistem atau proses yang melakukan suatu permintaan data atau layanan ke server sedangkan server ialah, sistem atau proses yang menyediakan data atau layanan yang diminta oleh client.
Client-Server adalah pembagian kerja antara server dan client yg mengakses server dalam suatu jaringan. Jadi arsitektur client-server adalah desain sebuah aplikasi terdiri dari client dan server yang saling berkomunikasi ketika mengakses server dalam suatu jaringan.

Sistem client server didefinisikan sebagai sistem terdistribusi, tetapi ada beberapa perbedaan karakteristik yaitu :
  a. Servis (layanan)
·  Hubungan antara proses yang berjalan pada mesin yang berbeda
·  Pemisahan fungsi berdasarkan ide layanannya
·  Server sebagai provider, client sebagai konsumen
 b.  Sharing resources (sumber daya)
           Server bisa melayani beberapa client pada waktu yang sama, dan meregulasi akses bersama            untuk share sumber daya dalam menjamin konsistensinya.
 c.  Asymmetrical protocol (protokol yang tidak simetris )
            Many-to-one relationship antara client dan server.Client selalu menginisiasikan dialog melalui        layanan permintaan, dan server menunggu secara pasif request dari client.
 d. Transparansi lokasi
           Proses yang dilakukan server boleh terletak pada mesin yang sama atau pada mesin yang                 berbeda melalui jaringan.Lokasi server harus mudah diakses dari client.
 e.  Mix-and-Match 
      Perbedaan server client platforms
 f. Pesan berbasiskan komunikasi
            Interaksi server dan client melalui pengiriman pesan yang menyertakan permintaan dan                    jawaban.
 g. Pemisahan interface dan implementasi
Server bisa diupgrade tanpa mempengaruhi client selama interface pesan yang diterbitkan tidak berubah.
·         Client Server System
·         Client / Server Application



2. Perbedaan Tipe Client-Server

a. File Servers
·         File server vendors mengklaim bahwa mereka pertama menemukan istilah client-server.
·         Untuk sharing file melalui jaringan
b. Database Servers
·    Client mengirimkan SQL requests sebagai pesan pada database server,selanjutnya hasil perintah SQL dikembalikan.
·         Server menggunakan kekuatan proses yang diinginkan untuk menemukan data yang diminta dan kemudian semua record dikembalikan pada client.
c. Transaction Servers (Transaksi Server)
·         Client meminta remote procedures yang terletak pada server dengan sebuah SQL database engine.
·         Remote procedures ini mengeksekusi sebuah grup dari SQL statement
·         Hanya satu permintaan / jawaban yang dibutuhkan untuk melakukan transaksi
d. Groupsware Servers
·         Dikenal sebagai Computer-supported cooperative working
·         Manajemen semi-struktur informasi seperti teks, image, , bulletin boards dan aliaran kerja
·         Data diatur sebagai dokumen
e. Object Application Servers
·         Aplikasi client/server ditulis sebagai satu set objek komunikasi
·         Client objects berkomunikasi dengan server objects melalui Object Request Broker (ORB)
·         Client meminta sebuah method pada remote object
f. Web Application Servers (Aplikasi Web Servers)
·         World Wide Web adalah aplikasi client server yang pertama yang digunakan untuk web.
·         Client dan servers berkomunikasi menggunakan RPC seperti protokol yang disebut HTTP.


3. Fungsi client server

Dalam konteks basis data, client mengatur interface berfungsi sebagai workstation tempat menjalankan aplikasi basis data. Client menerima permintaan pemakai, memeriksa sintaks dan generate kebutuhan basis data dalam SQL atau bahasa yang lain. Kemudian meneruskan pesan ke server, menunggu response dan bentuk response untuk pemakai akhir. Server menerima dan memproses permintaan basis data kemudian mengembalikan hasil ke client.

Proses-proses ini melibatkan pemeriksaan autorisasi, jaminan integritas, pemeliharaan data dictionary dan mengerjakan query serta proses update. Selain itu juga menyediakan kontrol terhadap concurrency dan recovery.

Ada beberapa keuntungan jenis arsitektur ini adalah :
·   Memungkinkan akses basis data yang besar
·   Menaikkan kinerja
·   Jika client dan server diletakkan pada komputer yang berbeda kemudian CPU yang berbeda dapat memproses aplikasi secara paralel. Hal ini mempermudah merubah mesin server jika hanya memproses basis data.
·   Biaya untuk hardware dapat dikurangi
·  Hanya server yang membutuhkan storage dan kekuatan proses yang cukup untuk menyimpan dan mengatur basis data
·   Biaya komunikasi berkurang
·  Aplikasi menyelesaikan bagian operasi pada client dan mengirimkan hanya bagian yang dibutuhkan untuk akses basis data melewati jaringan, menghasilkan data yang sedikit yang akan dikirim melewati jaringan
·   Meningkatkan kekonsistenan
· Server dapat menangani pemeriksaan integrity sehingga batasan perlu didefinisikan dan validasi hanya di satu tempat, aplikasi program mengerjakan pemeriksaan sendiri
·   Map ke arsitektur open-system dengan sangat alami

Berikut ini adalah ringkasan fungsi client-server

Client
• Mengatur user interface
• Menerima dan memeriksa sintaks input dari pemakai
• Memproses aplikasi
• Generate permintaan basis data dan memindahkannya ke server
• Memberikan response balik kepada pemakai
• Menyediakan akses basis data secara bersamaan
• Menyediakan kontrol recovery

Server
• Menerima dan memproses basis data yang diminta dari client
• Memeriksa autorisasi
• Menjamin tidak terjadi pelanggaran terhadap integrity constraint
• Melakukan query/pemrosesan update dan memindahkan response ke client
• Memelihara data dictionary


4. Tipe Jaringan Peer to Peer
Dalam jaringan peer-to-peer tidak ada server khusus atau hierarki diantara komputer-komputer yang saling terhubung, semua komputer berstatus sama dan dikenal sebagai peer. Komputer-komputer yang terdapat dalam jaringan peer-to-peer dapat bertindak sebagai server dan juga dapat bertindak sebagai client. Pada jenis jaringan ini juga tidak memiliki administrator yang bertanggung jawab terhadap seluruh jaringan. Masing-masing user bertindak sebagai administrator pada komputer yang digunakannya, user pada masing-masing komputer dapat menentukan data yang diperbolehkan untuk diakses oleh user dari komputer lain.
Peer-to-peer juga dikenal dengan istilah workgroups. Jumlah pengguna dalam sebuah jaringan workgroups atau peer-to-peer biasanya kurang dari dari 10 user. Jenis jaringan ini relatif sederhana karena masing-masing komputer berfungsi sebagai server dan client, sehingga tidak diperlukan sebuah komputer yang bertindak sebagai server pusat. Dari sisi biaya, jenis jaringan ini dapat lebih murah dibanding dengan jenis jaringan client-server.
Pada jenis jaringan peer-to-peer kita memerlukan software sistem operasi yang dirancang dan disediakan untuk dedicated server. Dedicated server hanya berfungsi sebagai server saja tidak digunakan sebagai client atau workstation. Sistem operasi seperti Microsoft Windows 2000 Professional, Mincrosoft Windows NT workstation, Microsoft Windows Me, Windows 98, Windows XP merupakan contoh-contoh sistem operasi yang dapat digunakan untuk membentuk jaringan peer-to-peer. Tidak ada software tambahan yang diperlukan untuk membangun sebuah sistem jaringan peer-to-peer.
jaringan peer-to-peer akan lebih efektif jika digunakan pada lingkungan berikut:
  •       Jumlah user kurang dari 10
  •       Lokasi user saling berdekatan (dalam area yang sama)
  •       Sistem keamanan belum terlalu diperlukan.
  •       Pertumbuhan sistem jaringan lambat.
        Jaringan peer-to-peer memiliki beberapa keuntungan, diantaranya:
  •       Mudah di-install dan di-konfigurasi
  •       Masing-masing komputer tidak tergantung pada server khusus
  •       User-user dapat mengontrol resource yang hendak mereka bagikan pada user lain
  •       Jenis jaringan peer-to-peer relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis client-server
  •       Jenis jaringan ini akan efektif dengan jumlah pengguna yang kurang dari 10.
Tetapi, jenis jaringan peer-to-peer juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah:
  •       Anda hanya dapat menggunakan beberapa password terhadap beberapa resource pada satu saat
  •       User mungkin akan mengingat beberapa password terhadap beberapa resource
  •       User harus melakukan proses backup pada masing-masing komputer untuk melindungi data yang tersimpan pada masing-masing komputer.
  •       Performance komputer yang memiliki resource akan menurun ketika resource tersebut di-akses oleh beberapa user
  •       Mekanisme penyimpanan data tidak terpusat pada satu komputer, karena lokasi data tersebar dimasing-masing komputer.

       5. Arsitektur Jaringan Client server
Arsitektur jaringan Client Server merupakan model konektivitas pada jaringan yang membedakan fungsi komputer sebagai Client dan Server. Arsitektur ini menempatkan sebuah komputer sebagai Server. Server ini yang bertugas memberikan pelayanan kepada terminal-terminal lainnya tang terhubung dalam system jaringan atau yang kita sebut Clientnya. Server juga dapat bertugas untuk memberikan layanan berbagi pakai berkas (file server), printer (printer server), jalur komunikasi (server komunikasi).
Pada model arsitektur ini, Client tidak dapat berfungsi sebagai Server, tetapi Server dapat berfungsi menjadi Client (server non-dedicated). Prinsip kerja pada arsitektur ini sangat sederhana, dimana Server akan menunggu permintaan dari Client, memproses dan memberikan hasil kepada Client, sedangkan Client akan mengirimkan permintaan ke Server, menunggu proses dan melihat visualisasi hasil prosesnya.
Arsitektur Client Server - Sistem Client Server ini tidak hanya diperuntukkan bagi pembangunan jaringan komputer skala luas. Sistem ini menggunakan protokol utama Transmision Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP), sedangkam sistem operasi yang digunakan antara lain Unix, Linux dan Windows NT.
Lingkungan Database Client/Server di Internet  
  •       Menggunakan LAN untuk mendukung jaringan PC 
  •       Masing-masing PC memiliki penyimpan tersendiri 
  •       Berbagi hardware atau software
          Aplikasi ditempatkan pada komputer client dan mesin database dijalankan pada server jarak-jauh. Aplikasi client mengeluarkan permintaan ke database yang mengirimkan kembali data ke client-nya.
Model Two-tier terdiri dari tiga komponen yang disusun menjadi dua lapisan : client (yang meminta serice) dan server (yang menyediakan service). Tiga komponen tersebut yaitu :
1. User Interface(Client). Adalah antar muka program aplikasi yang berhadapan dan digunakan langsung oleh user.
2. Manajemen Proses(Jaringan).
3. Database(Server). Model ini memisahkan peranan user interface dan database dengan jelas, sehingga terbentuk dua lapisan.


Dalam model client/server, pemrosesan pada sebuah aplikasi terjadi pada client dan server. Client/server adalah tipikal sebuah aplikasi two-tier dengan banyak client dan sebuah server yang dihubungkan melalui sebuah jaringan, seperti terlihat dalam gambar 1.2. Aplikasi ditempatkan padakomputer client dan mesin database dijalankan pada server jarak-jauh. Aplikasi client mengeluarkan permintaan ke database yang mengirimkan kembali data ke client-nya.
Dalam client/server, client-client yang cerdas bertanggung jawab untuk bagian dari aplikasi yang berinteraksi dengan user, termasuk logika bisnis dan komunikasi dengan server database.
Aplikasi-aplikasi berbasis client/server memiliki kekurangan pada skalabilitas. Skalabilitas adalah seberapa besar aplikasi bisa menangani suatu kebutuhan yang meningkat – misalnya, 50 user tambahan yang mengakses aplikasi tersebut. Walaupun model client/server lebih terukur daripada model berbasis host, masih banyak pemrosesan yang terjadi pada server. Dalam model client/server semakin banyak client yang menggunakan suatu aplikasi, semakin banyak beban pada server.
Koneksi database harus dijaga untuk masing-masing client. Koneksi menghabiskan sumber daya server yang berharga dan masing-masing client tambahan diterjemahkan ke dalam satu atau beberapa koneksi. Logika kode tidak bisa didaur ulang karena kode aplikasi ada dalam sebuah pelaksanaan executable monolitik pada client. Ini juga menjadikan modifikasi pada kode sumber sulit. Penyusunan ulang perubahan itu ke semua komputer client juga membuat sakit kepala.
Keamanan dan transaksi juga harus dikodekan sebagai pengganti penanganan oleh COM+/MTS. Bukan berarti model client/server bukanlah merupakan model yang layak bagi aplikasi-aplikasi. Banyak aplikasi yang lebih kecil dengan jumlah user terbatas bekerja sempurna dengan model ini. Kemudahan pengembangan aplikasi client/server turut menjadikannya sebuah solusi menarik bagi perusahaan.
Pengembangan umumnya jauh lebih cepat dengan tipe sistem ini. Siklus pengembangan yang lebih cepat ini tidak hanya menjadikan aplikasi meningkat dan berjalan dengan cepat namun juga lebih hemat biaya.


Kelebihan dari model client/server :
  •       Menangani Database Server secara khusus 
  •       Relatif lebih sederhana untuk di develop dan diimplementasikan. 
  •       Lebih cocok diterapkan untuk bisnis kecil.
Server database berisi mesin database, termasuk tabel, prosedur tersimpan, dan trigger (yang juga berisi aturan bisnis). Dalam system client/server, sebagian besar logika bisnis biasanya diterapkan dalam database.
Server database manangani : 
  •       Manajemen data 
  •       Keamanan 
  •       Query, trigger, prosedur tersimpan 
  •       Penangan kesalahan

Arsitektur client/server merupakan sebuah langkah maju karena mengurangi beban pemrosesan dari komputer sentral ke komputer client. Ini berarti semakin banyak user bertambah pada aplikasi client/server, kinerja server file tidak akan menurun dengan cepat. Dengan client/server user dair berbagai lokasi dapat mengakses data yang sama dengan sedikit beban pada sebuah mesin tunggal. Namun masih terdapat kelemahan pada model ini. Selain menjalankan tugas-tugas tertentu,

Kekurangan dari model client/server :
  •       Kurangnya skalabilitas 
  •       Koneksi database dijaga 
  •       Tidak ada keterbaharuan kode 
  •      Tidak ada tingkat menengah untuk menangani keamanan dan transaksi skala kecil. 
  •       Susah di amankan. 
  •       Lebih mahal.



      6. Three-Tier / Multi-Tier
Three Tier Client Server - Model three-tier atau multi-tier dikembangkan untuk menjawab keterbatasan pada arsitektur client/server. Dalam model ini, pemrosesan disebarkan di dalam tiga lapisan (atau lebih jika diterapkan arsitektur multitier). Lapisan ketiga dalam arsitektur ini masing-masing menjumlahkan fungsionalitas khusus. Yaitu : 
  •       Layanan presentasi (tingkat client) 
  •       Layanan bisnis (tingkat menengah) 
  •       Layanan data (tingkat sumber data)

      Layanan presentasi atau logika antarmuka pengguna ditempatkan pada mesin client. Logika bisnis dikeluarkan dari kode client dan ditempatkan dalam tingkat menengah. Lapisan layanan data berisi server database. Setiap tingkatan dalam model three-tier berada pada komputer tersendiri.
Konsep model three-tier adalah model yang membagi fungsionalitas ke dalam lapisan-lapisan, aplikasiaplikasi mendapatkan skalabilitas, keterbaharuan, dan keamanan.
Arsitektur Three Tier merupakan inovasi dari arsitektur Client Server. Pada arsitektur Three Tier ini terdapat Application Server yang berdiri di antara Client dan Database Server. Contoh dari Application server adalah IIS, WebSphere, dan sebagainya. Application Server umumnya berupa business process layer, dimana bisa didevelop menggunakan PHP, ASP.Net, maupun Java. Sehingga kita menempatkan beberapa business logic kita pada tier tersebut. Arsitektur Three Tier ini banyak sekali diimplementasikan dengan menggunakan Web Application. Karena dengan menggunakan Web Application, Client Side (Komputer Client) hanya akan melakukan instalasi Web Browser.
Dan saat komputer client melakukan inputan data, maka data tersebut dikirimkan ke Application Server dan diolah berdasarkan business process-nya. Selanjutnya Application Server akan melakukan komunikasi dengan database server. Biasanya, implementasi arsitektur Three Tier terkendala dengan network bandwidth.
Karena aplikasinya berbasiskan web, maka Application Server selalu mengirimkan Web Application-nya ke komputer Client. Jika kita memiliki banyak sekali client, maka bandwidth yang harus disiapkan akan cukup besar, Sedangkan network bandwidth biasanya memiliki limitasi. Oleh karena itu biasanya, untuk mengatasi masalah ini, Application Server ditempatkan pada sisi client dan hanya mengirimkan data ke dalam database server. Konsep model three-tier adalah model yang membagi fungsionalitas ke dalam lapisan-lapisan, aplikasiaplikasi mendapatkan skalabilitas, keterbaharuan, dan keamanan.

Kelebihan arsitektur Three Tier : 
  •     Segala sesuatu mengenai database terinstalasikan pada sisi server, begitu pula dengan pengkonfigurasiannya. Hal ini membuat harga yang harus dibayar lebih kecil.
  •       Apabila terjadi kesalahan pada salah satu lapisan tidak akan menyebabkan lapisan lain ikut salah.
  •      Perubahan pada salah satu lapisan tidak perlu menginstalasi ulang pada lapisan yang lainnya dalam hal ini sisi server ataupun sisi client. 
  •     Keamanan dibelakang firewall.Transfer informasi antara web server dan server database optimal.
  •       Komunikasi antara system-sistem tidak harus didasarkan pada standart internet, tetapi dapat menggunakan protocol komunikasi yang lebvih cepat dan berada pada tingkat yang lebih rendah.
  •      Penggunaan middleware mendukung efisiensi query database dalam SQL di pakai untuk   menangani pengambilan informasi dari database.



Beberapa Keuntungan Arsitektur Three-Tier :
  •       Keluwesan teknologi.
  •       Mudah untuk mengubah DBMS engine 
  •       Kemungkinkan pula middle tier ke platform yang berbeda 
  •       Biaya jangka panjang yang rendah.
  •      Perubahan-perubahan cukup dilakukan pada middle tier daripada pada aplikasi               keseluruhan. 
  •       Keunggulan kompetitif. 
  •      Kemampuan untuk bereaksi terhadap perubahan bisnis dengan cepat, dengan cara            mengubah modul kode daripada mengubah keseluruhan aplikasi

Kekurangan arsitekture Three Tier :
  •       Lebih susah untuk merancang
  •       Lebih susah untuk mengatur 
  •       Lebih mahal

       7. Aplikasi N-tier
Aplikasi N-TierStored procedure ternyata tidak mencukupi untuk sistem dimana database disimpan pada lebih dari satu server, karena bisa jadi terdapat client yang tidak dapat mengakses procedure tersebut. Mungkin Anda bertanya, apa perlunya menyimpan database lebih dari satu server? Tentu saja Anda juga menginginkan perusahaan yang menggunakan aplikasi Anda dapat berkembang, bukan? Penggunaan lebih dari satu database sangat memungkinkan saat sebuah perusahaan telah memiliki divisi yang cukup besar dimana harus memiliki database tersendiri. Dalam kasus penggunaan lebih dari satu server database, Anda perlu mengimplementasikan strategi development yang berbeda, pendekatan yang baik adalah dengan menggunakan model n-tier. Huruf “n” pada n-tier menunjukkan variabel numerik yang dapat berisi angka sebanyak apapun, misalnya 3-tier, 4-tier dan seterusnya. Karena itu sebuah aplikasi n-tier memiliki 3 atau lebih tingkatan logical, umumnya aplikasi n-tier saat ini menggunakan 3-tier.
Untuk menggambarkannya, Anda dapat membayangkan skema disain aplikasi two-tier yang mengimplementasikan business logic pada stored procedure seperti yang telah diterangkan diatas, kemudian melakukan improvisasi disain dengan menambahkan sebuah tingkatan (tier) sebagai middle tier sebagai business object, arsitektur inilah yang dikenal dengan 3-tier. Perbedaan nyata dengan 2-tier adalah, business object pada 3-tier terpisah dari aplikasi client dan elemen database. Sehingga dapat digambarkan bahwa sistem 3-tier secara umum terbentuk dari tingkatan client, business dan database.
Untuk membayangkan penerapan 3-tier dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin paling sering Anda temui adalah penerapan Internet ataupun Intranet.
Pada aplikasi Internet/Intranet, terdapat client yang menjalankan browser dan meminta informasi dari middle-tier yang berupa HTTP Server. Middle-tier akan meminta data pada server database, kemudian mengirimkannya kembali kepada HTTP Server. HTTP Server akan mengirimkan kepada browser dalam bentuk page/halaman web.
Sebuah sistem 3-tier menyediakan support multi-user yang stabil, bahkan saat pada client menjalankan aplikasi yang berbeda, juga dapat mendayagunakan beberapa database yang digunakan secara bersamaan. Dalam pembahasan berikut ini, akan dijelaskan contoh kasus penerapan 3-tier. Bayangkan sebuah sistem 3-tier, yang terdiri dari client, business dan database.
Sistem tersebut harus melakukan kalkulasi gaji karyawan berdasarkan pajak dan peraturan lainnya yang dapat berubah dari tahun ke tahun. Pada tahun ini, terdapat perubahan peraturan pajak yang harus diterapkan pada sistem, pada tingkatan mana Anda harus melakukan update? Anda hanya perlu melakukan update pada tingkatan business object, yang ada karena arsitektur 3-tier ini. Satu hal yang harus terus diingat sebagai konsep dasar, bahwa pengertian arsitektur 2-tier maupun 3-tier adalah secara logical dan bukan secara physical. Sehingga pada sebuah sistem kecil Anda dapat menjalankan business logic dan database pada komputer yang sama. Tetapi pada sistem yang besar, Anda mungkin memerlukan beberapa komputer untuk menjalankan baik tingkatan business ataupun database.





Teknologi pendukung
Beberapa contoh teknologi yang umum dipergunakan untuk mendukung n-tier: 
  •       Component Object
Umumnya merupakan model object oriented dimana dapat dipergunakan oleh aplikasi yang berbeda dan penggunaan ulang komponen. Contohnya adalah COM/DCOM. Aplikasi yang ditulis dengan bahasa pemrograman yang berbeda dapat saling berkomunikasi dengan menggunakan Component Object. Component Object itu sendiri dapat ditulis dengan bahasa pemrograman yang berbeda-beda. Pada prinsipnya komponen tersebut terdiri dari class yang memiliki sekumpulan method. 
  •        Microsoft Transaction Server
MTS atau Microsoft Transaction Server merupakan software yang dikembangkan oleh Microsoft untuk keperluan monitoring transaksi pada aplikasi terdistribusi. MTS beroperasi pada middle-tier dan menyediakan control transaksi. Sebagai contoh, jika Anda mengembangkan sistem 3-tier yang mana menempatkan business object pada middle-tier, maka Anda dapat membuat ActiveX DLL sebagai business objectnya, dan melakukan instalasi didalam lingkungan MTS pada middle-tier. MTS akan bertanggung-jawab dalam menangani akses multi-client pada busines object tersebut. MTS menyediakan fasilitas seperti transaksi rollback, commit dan deadlock pada middle-tier. 
  •       HTTP/Web Server.
Untuk aplikasi n-tier pada aplikasi Internet/Intranet, Anda mutlak memerlukan Web Server. Terdapat cukup banyak web server yang umum digunakan seperti Apache Web Server atau Internet Information Server (IIS). Anda dapat menggunakan web server sebagai middle-tier untuk menangani permintaan dari browser komputer client.
  •       Microsoft Message Queue Server.
MMQS atau Microsoft Message Queue Server merupakan teknologi yang dikembangkan oleh Microsoft yang berjalan pada middle-tier dan berfungsi untuk mengelola antrian permintaan.
Hal ini dilatarbelakangi karena didalam jaringan yang besar, tidak semua komputer yang terkoneksi berfungsi pada saat yang diperlukan, sehingga diperlukan sebuah aplikasi yang dapat mengelola antrian request dari client dan response dari server yang akan dikirimkan lagi ketika komputer tujuan telah berfungsi. Satu keuntungannya lagi, jika client-client meminta request yang melebihi kapasitas sebuah server, maka MMQS dapat menyimpannya untuk kemudian mendelegasikannya pada server yang tidak sibuk. Untuk kebutuhan ini diperlukan aplikasi pada server yang berfungsi sebagai listener atau referral. 
  •       Database Management System.
Database Management System atau dikenal dengan singkatan DBMS merupakan sumber penyimpanan data dan tentu saja memegang peranan vital dalam keseluruhan sistem. Untuk arsitektur 2-tier dan n-tier, diperlukan aplikasi DBMS yang mampu bekerja pada lingkungan tersebut, beberapa contohnya adalah MySQL, Microsoft SQL Server dan Oracle. Jika pada DBMS yang dipergunakan terdapat fasilitas stored procedure, maka dimungkinkan untuk menyimpan business logic didalam stored procedure yang akan diakses oleh client.

Keuntungan Dan Kerugian n-tier
Diantara keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari arsitektur n-tier (atau 3-tier pada umumnya), yang terutama adalah:
1.      Kemudahan perubahan business logic di masa yang akan dating
2.      Business logic yang mudah diimplementasi dan dipelihara
      3.     Aplikasi client dapat mengakses berbagai tipe DBMS yang berbeda-beda secara               transparan.


  Sumber : http://blogeko3.blogspot.com/2012/07/pengertian-clent-server-dan-peer-to-peer.html




























  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar

Menu

Dede Saefudin Ahmad. Diberdayakan oleh Blogger.